Purwakarta – Berlangsung di Aula Al-Biru SMP–MTs pada Selasa (14/7), Workshop Penguatan Integrasi Ilmu menjadi momentum penting bagi seluruh guru untuk memperkuat paradigma pembelajaran yang menyatukan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai Islam. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Dr. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, M.A., yang memaparkan konsep integrasi ilmu sebagai fondasi dalam membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan intelektual peserta didik, tetapi juga membentuk karakter dan spiritualitas mereka. Materi menegaskan bahwa integrasi ilmu bukan sekadar menempelkan ayat Al-Qur'an pada mata pelajaran umum, melainkan membangun cara pandang bahwa seluruh ilmu berasal dari sumber kebenaran yang sama, yaitu Allah SWT., dan bermuara pada kemaslahatan manusia.
Dalam penyampaiannya, Dr. KH. R. Marpu Muhidin Ilyas, M.A. menjelaskan bahwa selama ini dunia pendidikan masih sering terjebak pada dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Padahal, keduanya merupakan dua jalan yang saling melengkapi dalam mengantarkan manusia memahami kebenaran. Beliau menekankan bahwa setiap cabang ilmu memiliki tujuan yang sama, yakni menghadirkan kehidupan yang lebih baik, membangun akhlak, serta mendekatkan manusia kepada Allah SWT. Dengan demikian, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan dengan makna kehidupan, bukan sekadar menyampaikan materi secara terpisah-pisah.
Sebagai bekal implementasi, narasumber memaparkan lima prinsip integrasi ilmu, yaitu kesatuan sumber ilmu, kesatuan tujuan, hierarki tanpa permusuhan antardisiplin ilmu, keutuhan jiwa pembelajar, serta semangat anti-dikotomi dan anti-dogmatis. Prinsip-prinsip tersebut diterjemahkan ke dalam langkah-langkah praktis, seperti merancang proyek lintas mata pelajaran, membangun budaya saling menghargai antarbidang ilmu, mengawali pembelajaran dengan pertanyaan tentang makna dan tujuan suatu ilmu, serta menjadikan keteladanan guru sebagai bagian dari proses pendidikan. Dengan pendekatan ini, pembelajaran diharapkan mampu melahirkan peserta didik yang utuh, berkarakter, dan memiliki wawasan yang luas.
Workshop ditutup dengan refleksi bahwa integrasi ilmu bukanlah proyek sesaat, melainkan budaya berpikir yang harus tumbuh dalam setiap aktivitas belajar mengajar. Setiap guru memiliki peran strategis untuk menanamkan keterhubungan antara ilmu, akhlak, dan tujuan hidup sehingga sekolah menjadi tempat lahirnya generasi berilmu, beriman, dan beradab.
Mari bergabung bersama SMP–MTs, sekolah yang berkomitmen menghadirkan pendidikan berkualitas melalui pembelajaran yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai Islam, dan pembentukan karakter, demi mencetak generasi unggul yang siap menghadapi tantangan masa depan dengan iman, ilmu, dan akhlak mulia.
(AMS)



























